Pages

Friday, 19 August 2011

Alapyu, plend Part 1

Alapyu, Plend
Agustus 2011
Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2011








“Kita tetap sahabat, selamanya akan tetap menjadi sahabat,”
Terkadang sebaris ikrar itu malah membuatku sesak. Dan ketika mulutku memaksa untuk mengucapnya, ketika itu aku ingin sekali tersedu mengunci rapat mulutku, hanya saja keadaan terus memaksaku. Kutahu itu adalah janji, bukankah janji sepatutnya tak diingkari? Namun sungguh aku tak berdaya dengan sebaris kalimat yang aku dan dia ikrarkan sejak lama di sebuah halte sekolah di bawah gerimis senja menjelang malam.
   “Bengong aja,”
Satu tepukan di pundakku membuatku kaget. Tanpa menolehpun kutahu dia adalah Akbar, lelaki yang kukenal tiga tahun lalu yang kini jadi sahabatku, hanya sahabat.
   “Lagi apa?”
Dia duduk di sebelahku, di sebuah halte depan sekolah, tempat biasa kami bersama. Aku sedikit menggeser posisi duduk.
   “Lagi mikirin Redy dong..” ungkapku menyembunyikan lamunan singkatku siang itu.
   “Jangan cuma dipikirin, deketin dia,”
   Aku hanya memberinya seyuman, malas rasanya menyanggah yang satu ini.
   “Aku jadian sama Lifa,” bisik Redy tiba-tiba.
Bisikannya nyaris seperti desing yang mematikan, rasanya saat ini aku ingin bangun lantas berlari menjauhinya dan tak mau lagi menemuinya. Aku sangat remuk. Untung saja aku masih terlalu kuat untuk menahan antrian butiran isak yang sudah siap membasahi. Aku tak mau kemunafikanku terbongkar hari ini, aku belum siap menerima kepedihan yang lebih dari ini.
   “Wah? Kok bisa? Kamu pake jurus apa sampe bisa meluluhkan dia?”
Aku berusaha terlihat sangat berempati padanya, memasang air muka sumringah dan mata berbinar.
   “Pake ini,”
Dia menempelkan telunjutknya di dadanya. Spontan aku memalingkan muka darinya. Aku mengerti dengan apa yang dia maksud. Hati, dengan hati dia akhirnya kuasa meraih Lifa, gadis yang dicintainya.  Entahlah, awalnya aku sendiri tak mengerti. Entah apa yang membuat dia klepek-klepek pada gadis alay itu, padahal aku tahu betul bahwa dia tidak suka dengan para mahkluk alay yang seringkali fulsome apalagi dengan gaya bahasa mereka. Aku tak mengerti dengan hatinya saat ini.
   Dan aku merasakan sakitnya sekarang. Ribuan senja itu telah bersama kami, dan rintik gerimis yang seringkali menjadi penawar senyum kami ketika kami bersama dalam kepenatan kini bagiku rintik itu telah memasuki mataku yang seringkali aku harus menahannya hingga aku merasa kesakitan. Ketidakberdayaanku yang membuatku harus mengalah.
   Akbar, aku mengenalinya tiga tahun lalu ketika kami sama-sama memulai kehidupan putih abu. Dia adalah anak rantauan dari Palembang, kedatangannya kemari hanya sementara, hanya mengikuti ayahnya yang bertugas di sini sebagai anggota polisi. Kukira kehadirannya hanya akan mempengaruhi hidupku, namun nyatanya mempengaruhi hatiku. Sungguh aku tak pernah meminta ini semua pada Tuhan, namun entah apa sedang Tuhan rencanakan. Aku tak berbuat apapun, diam. Aku seringkali dihantui dengan janji itu, janji kecil yang sangat membuatku merasa bahwa aku tak memilki harapan. Dan lusa aku tak akan menemuinya lagi, esok adalah pengumuman kelulusan. Dan setelah itu dia akan kembali, jauh dari jangkauanku, dan ini yang membuatku sangat sakit, esok mungkin aku akan menjadi serpihan –serpihan kecil yang terhempas oleh tiupan angin senja yang memayakan harapanku.
 “Kita tetap sahabat. Selamanya akan tetap menjadi sahabat,”
Kini aku harus menutupinya dengan hal bodoh, berpura-pura menyukai Redy. Aku pun tak mengerti kenapa kebohongan ini tertuju padanya, aku memang munafik, sangat. Jika kuingat siapa Redy? Sebelumnya aku tak mengenalinya sama sekali. Aku pertama melihatnya saat aku diajak Akbar melihat ekskul bola volley, kuingat waktu itu Akbar ingin melihat Lifa yang kebetulan anggota ekskul itu. Mungkin karena aku merasa perih ketika melihat pandangan manis Akbar pada Lifa, spontan saat itu aku memalingkan muka mengarah pada seorang cowok tinggi berkulit hitam manis dan dia adalah Redy.
“Bar, Bar, liat dia…manis…”
Kuingat itu kalimat “palsu” pertama yang kulontarkan pada Redy. Aku tak melihat ekspresi apapun darinya. Kufokuskan pandanganku pada Redy. Selepas waktu itu, Akbar menguraikannya pada Lifa, kutahu Lifa mengenali Redy. Dan pada akhirnya hingga kini aku masih menutupi diri. Ini memang menyakitkan, aku tahu itu, hanya saja aku tak mau terlihat seperti wanita malang yang tidak terlihat oleh sahabatnya sendiri.
“Kania!! Wei! Kamu kenapa?”
Mungkin lamunanku terlalu panjang hingga aku tak menyadari bahwa Akbar tengah berdiri di depanku sembari menepuk pundakku pelan.
“Eh ia, kenapa?”
“Kamu kemana aja sih?”
“Dari tadi aku di sini,”
“Jiwamu yang di sini, tapi pikiranmu entah kemana.”
Aku tak mengubris. Ragaku telah hilang menerobosi ruang batinnya yang rupanya telah termasuki oleh segenggam kasih lain yang bukan lagi asing untukku. Tergambar di hatinya satu cinta sempurna yang tak kuasa kusentuh dan menghapusnya hingga hilang tak membekaskan setitik luka apapun.
“Akbar…”
Sesaat kudengar ada seseorang yang memanggil Akbar dari arah gerbang sekolah. Kulihat, Lifa ternyata. Cantik, wajar saja jika Akbar menyukainya, hanya saja seragam putih abunya yang agak nyentrik membuatku sedikit mual.
“Hai…”
Kulihat Akbar memancarkan senyum, berbunga. Tentu saja ini cukup menyakitkan bagiku.
“Emm Kani, aku duluan ya? Gak apa-apa kan?”
“Gak apa-apa banget,”
Akbar bangun dari duduknya, usai pamit dia segera bergegas bersama Lifa, pacar barunya ke dalam sekolah. Lifa sempat menyapaku dengan melebarkan bibirnya, kubalas dengan sapaan yang sama. Lantas mereka hilang dari pandanganku. Aku kembali sendiri, menyepi tanpa kudengar rintih apapun selain geronggang kendaraan yang melintas. Aku terlalu bodoh. Sangat. Entah apa yang tengah Tuhan gariskan, aku seperti seorang pengecut munafik, diam ketika aku harus bicara.
***

Alapyu, plend Part 2


Senja nyaris berpulang, telah kudapati kharisma jingga hari ini hanya bersama kesendirian. Tinggal sehasta lagi ribuan titik hitam merapat hingga persis seperti lautan kapas hitam yang menggumpal, legam tanpa sinar. Mungkin esok adalah senja terakhir aku merasakan kepedihan batin yang amat dahsyat, mungkin. Atau bahkan aku malah merasakan kesakitan yang lebih hebat, entahlah.
Petang ini aku masih mematung di halte sekolah, saat ini aku ingin membaca lebih dalam akan perasaan batin yang semakin membuatku amat jeri ketakutan. Aku mengambil kalender mini dari saku bajuku, setiap hari aku selalu membawanya, ini akan mengingatkanku bahwa waktuku bersama Akbar tak ‘kan lama lagi. Kuarahkan mataku pada deretan angka itu,  garis bulat melingkari semua tanggal hari ini dan hari-hari yang lalu, itu artinya aku telah diam selama 1.5 tahun, waktu yang sangat lama untukku. Menunggu sebuah ketidakpastian hanya sendiri tanpa siapapun, namun aku cukup menikmatinya meski terkadang ini membuatku seperti kehilangan hidupku.
Kulihat tanggal selanjutnya, tanda silang berhenti di 1 hari selanjutnya. Tuhan…itu artinya tinggal 1 hari aku bertemu Akbar. Dan aku semakin dura, apa yang harus aku lakukan? Bisakan esok aku membuka batin dan membisikan setia baris perasaan yang belum tersampaikan? aku seperti terpenjara, aku belum menemukan kuncinya hingga aku tak kuasa melepas keterdiaman yang selama ini merajaiku. Rasanya sampai kapanpun aku akan tetap seperti ini. Tanpa kesempatan.
Aku nyaris saja menyobek kalender itu, aku takut. Ketakutan akan esok yang akan membuatku seperti mawar mati yang tak akan pernah tersentuh kumbang lagi. Tiba-tiba saja seseorang membuyarkan pikiranku, dari kejauhan terlihat Redy sedang mengobrol dengan Mang Mamam –tukang kebun sekolah-,rupanya dia masih di sini,  mereka berbicara berhapan, cukup serius, namun aku tak mau memperdulikannya. Aku yakin dia hanya meminta pada Mang Maman untuk memetik anggrek untuk dipersembahan khusus untuk Lifa, ya itu yang seringkali dia lakukan ketika dia bertemu Mang Maman. Biarkan saja dia seperti itu tanpa menyadari keberadaanku lebih dari yang dia rasa saat ini.
Aku membuang muka ketika dia menyadari bahwa aku memperhatikannya dari kejauhan, aku tak mau melihat cinta Lifa yang keluar dari matanya yang sayu. Tak lama kemudian, Akbar menghampiriku lantas dia duduk di sebelahku.
“Kamu masih di sini?” tanyaku seraya tergesa-gesa memasukkan kembali kalender itu, jika kubiarkan tergeletak, aku yakin dia akan menanyakannya, kerena untuk kali ini aku tak mampu menjawab meski aku berusaha memberinya sebuah elakan.
Dia hanya mengangguk dan sedikit mengangkat alis kanannya. Lalu dia mengambil HP dari saku celananya dan memasangkan headset di kedua telinganya. Sesaat tak ada perbincangan diantara kami, yang kudengar hanya deru mesin-mesin motor bergerak yang sesekali menyemburkan asap dari knalpotnya. Kulihat Akbar malah asyik memainkan HPnya, sembari menggerakan bibirnya mengikuti nyanyian yang ia dengar tanpa suara. Sebenarnya Akbar memilki suara bagus, aku pernah mendengarnya menyanyi di kamarnya ketika aku diam-diam berkunjung ke rumahnya.
Aku sejenak memperhatikannya, Akbar sangat manis, rambut lurus yang tertata rapi dan matanya yang agak sayu membuatku menyukainya,apalagi kulit putihnya menambah kesempurnaan lahiriahnya, jika saja rambutnya sedikit pirang, dia akan persis seperti Freddie Highmore. Aku langsung tersadar, jika saja Akbar menyadari bahwa aku tengah memperhatikannya, aku akan gamam, tak tahu harus mengiyakan atau mengelak. Aku membuang napas, lalu mengangkat kepalaku hingga mataku mengarah pada mega yang semakin ditinggalkan samsunya. Lalu kulihat Akbar, dia masih anteng dengan nada-nada yang menggaung lembut di telinganya, bahkan aku merasa dia tak sedang memperdulikan keberadaanku, kuputuskan untuk merapihkan bajuku dan bermaksud bergegas. Malam ini aku harus benar-benar sendiri dan meyakinkan hati bahwa esok aku harus benar-benar siap menjadi merpati yang tak akan kehilangan sayap namun tak akan kuasa menari-nari lagi bersama hamparan awan-awan putih yang mempesona.
“Mau kemana?”
Kepergianku tercegah oleh Akbar, aku baru saja bangun dari dudukku, terpaksa aku duduk kembali.
“Pulang,” sanggahku.
“Sebentar aja di sini,” pintanya sembari melepas kedua headsetnya.
”Aku gak mau membuat masalah dengan Lifa,”
Aku berusaha menolaknya, meski sebenarnya aku ingin melewati malam ini hanya berdua dengan Akbar.
“Ah lebay banget kamu,”
Aku menyerah, kubiarkan telapak tanganku menahan dagu, persis seperti orang kebingungan. Tinggal seperempat jam lagi malam akan menjelang. Sejenak tak kudengar Akbar berucap apapun, entah apa yang dia sedang dia lakukan, aku malas menolehnya. Kubiarkan dia yang mendahului, namun beberapa saat dia tak berbicara juga. Aku merubah posisiku namun aku masih tak mau menolehnya.
“Gimana rasanya pacaran sama Lifa?” kupaksakan untuk memulai, aku tak mau waktuku terbuang seperti ini, justru keadaan seperti ini yang malah membuatku semakin merasakan kegalauan.
“Lebih bahagia dari yang kamu pikir,”
Kali ini aku terpaksa menolehnya, kulihat dia memberiku seyuman, aku membalasnya sejenak lalu membiarkan mulutku kembali membusur.
“Ya..kadang alaynya dia bikin aku eneg,”
Aku sedikit tertawa kecil, dia mengikutiku.
“Barusan di kantin dia protes soalnya aku gak bales sms dia yang semalam, ya aku jawab aja kalo bahasa dia itu gak bisa diterjemahkan,”
Aku tersenyum geli mendengarnya, “Terus dia bilang apa?”
“Ea gag apha-apha,” Akbar menirukan bahasa yang sering diucapkan Lifa, aku kembali tertawa kecil, rasanya rasa sakitku sedikit berkurang dengan lelucon itu meski yang menjadi tokoh utamanya Lifa.
            “Coba deh kamu baca smsnya.”
Dia menyodorkan HPnya padaku, sejenak aku menatapnya, seperti biasa dia tak menyadari tatapanku. Aku mencoba membacanya, kuyakin jika isi pesan itu adalah kalimat romantis yang malah akan semakin menyakitkanku, namun aku berusaha untuk bersikap sepeti “orang lain” yang tak mengenali hati Akbar.
mmm..yanx aqhu gag nyaxka lho
bza zadian mha qmu.
Aqhu senenk banged..
Aqhu k1ra qmu gag bener4n
Zuka mha aqhu..he he he
Makacih ea chaiank..
I luph u pull.,,

Sekali lagi, aku menghela napas, usai kubaca pesan pembangkit pilu itu aku memastikan bahwa Lifa adalah wanita beruntung, andai saja Tuhan bisa sekali saja memberikanku kesempatan yang sama, aku tak akan pernah menyia-nyiakannya.
“Gimana? Apa kata dia?”
 “Yang aku ga nyangka lho bisa jadian sama kamu, aku seneng banget. Aku kira kamu gak beneran suka sama aku, makasih ya sayang, I love u.”
Perlahan kubaca sederet kalimat pesan singkat itu dengan terbata kerena derai yang mulai memaksaku untuk kembali, nyaris saja saat itu juga aku menumpahkan tangisku, aku berandai jika saja kalimat terakhir adalah apa yang sesungguhnya ingin kukatakan, seringkali aku menyadarinya bahwa aku adalah wanita bahkan kurasa semua orang telah mengharamkan wanita memulai terlebih dulu.. Andai saja aku adalah Lifa, sungguh Tuhan …aku tak akan pernah menyia-nyiakannya.
“Yah dia ribet amat ngomong gitu juga.”
Akbar mengambil HPnya yang kupegang, tak ada rona memerah darinya. Aku heran, itu adalah kalimat manis dari wanita yang dicintainya, tapi aku tak melihat ada sesuatu yang istimewa dari auranya.
“Aku mesti bales gimana?” lanjutnya seperti telah kehilangan kalimat manis lain yang kurasa hanya dia yang sanggup menuliskannya.
“Yah,,kan itu sms basi, kalian udah bahas itu, jadi kenapa mesti dibalas?”
Akbar rupanya tak menyanggahku, dia malah menekan keypad HPnya. Kutunggu sejenak, Akbar hanya memijit beberapa tombol. Klik.
“Kamu balas apa?” tanyaku tak lama setelah dia selesai menekan keypad HPnya.
“I love u, mmm..maksudku alapyu..hehehe..”
Aku mengerti maksudnya, aku berusaha untuk tersenyum menutupi keluh batin yang mungkin akan segera mati.
      “Kani, besok kan aku bakal pergi, menurut kamu apa yang mesti aku lakuin buat Lifa?” tanyanya kemudian
sambil memasukkan HP ke saku celananya.
Sejenak aku termanggu, seharusnya dia berpikir tentang apa yang harus kulakukan sebelum dia pergi tanpa menyisakan satu penyesalan yang akan mematikanku. Dan aku tak memiliki kuasa apapun bahkan lewat sebaris sajak pun aku tak kuasa. Rasanya aku lebih pantas disebut pengagum bodoh yang tak mengerti bagaimana cara menyatakan cinta.
“Kania..” lirih Akbar ketika dia mendapatiku cenung dengan air muka padam.
“Eh?” aku agak gelagapan dan cukup kikuk.
“Kayaknya akhir-akhir ini kamu sering bengong, kenapa?”
“Aku? Gak apa-apa. Serius,”
Akbar terseyum padaku, kuharap dia tak menangkap apapun dariku. Sejujurnya aku belum siap, belum siap perih lebih dalam lagi. Rasanya akan memperburuk keadaan jika kubiarkan mulutku berucap tentang hatiku. Aku menunggu waktu yang tepat, ketika keadaanlah yang memintaku untuk mencoba.
Sesaat dalam keadaan yang sama, ketika kami luput dalam keheningan sejenak, tiba-tiba kulihat seseorang mengenakan kaos hitam dan dengan bawahan jeans melintas dengan motor matic birunya, Redy melintas tepat di hadapan kami malah dia sempat menyapa kami dengan membunyikan suara klakson.
“Redy.” gumamku, ”Akbar, liat barusan dia lewat…” dan aku kembali memasang muka munafikku, aku mencubit-cubit baju Akbar hingga akhirnya Redy hilang dari pandanganku. Kutoleh Akbar, lagi-lagi aku menghela napas, dia malah kembali asyik dengan memasang headset di kedua telinganya.
***
Aku sangat ketakutan pagi ini. Usai fajar yang berlalu aku merasakan betapa aku seperti sedang berada dalam kegalauan hebat. Hingga tetes bening diantara kabut yang merabunkan pandangan membuatku seolah semakin tak berenergi. Aku merasa jarum merah akan terhenti hari ini, setelah itu aku akan mati membawa harapan yang tak terjamah.
Aku menatap kalender kecilku yang sudah penuh dengan coretan merah, dan hari ini tanda silang. Mataku mulai berkaca hingga aku tak kuasa lagi membiarkan tangisku terus mengantri di bibir mata.  Aku menatap laptopku yang sudah terhubung ke website sekolah, rasanya aku tak akan sanggup. Tak lama kemudian HPku berbunyi, aku yakin pesan itu akan mempengaruhiku, pasti. Kulihat…
Kita berdua lulus, aku
udah liat di web.
***

Alapyu, plend ( Last Part )


Senja mulai menyapaku usai gerimis pagi yang menutupi cahya sinar raja siang hari ini mengikuti derai yang makin menjadi, aku sangat merasa kesakitan kali ini. Jingga petang ini sangat indah hanya saja aku tak kuasa menikmatinya. Sore ini aku akan menemui Akbar untuk yang terakhir kalinya di bandara Husein Sastranegara. Langkahku perlahan menghampiri sesosok dia yang telah merajai hati dan pikiranku, dia termanggu sendiri di sebuah kursi besi tanpa seulas senyum, aku mengerti. Mungkin dia tak pernah tahu betapa aku merasakan sakitnya sejak lama, namun sekarang sakitku sangat dalam sehingga aku seolah tak lagi merasakannya.
“Mana Lifa?”
Aku menghampiri dan memulai pembicaraan tanpa kusempatkan sedikit menyapanya meski hanya sekedar berkata, “Hai,”
“Aku bersama dia baru-baru ini dan aku rasa aku bakal cepat bisa melupakan dia,”
“Mungkin akan lebih baik kalo kamu menghabiskan waktu ini bersama dia,”
“Kamu pikir lebih baik aku bersama orang lain daripada sahabat aku sendiri?”
Sejujurnya aku tak mengerti dengan apa yang dia maksud, aku berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, “Maksud kamu?”
“Aku mutusin dia,”
Aku sangat kaget, secepat inikah kisah meraka? Hanya sebatas hasta saja. Seharusnya aku senang mendengarnya namun saat ini aku tak merasakan apapun. Dan seperti biasa, aku diam, aku tak tahu harus berkata apalagi. Hari ini aku tak mau banyak bicara, sungguh.
“Kamu tahu gimana aku mutusin dia?”
Aku geleng kepala.
“Lo gue end,” lanjutnya dengan mengarahkan telunjuknya padaku lalu mengarahkan membalik padanya dan terakhir dia melebarkan kedua tangannya dengan telapak tertutup.
Kulihat Akbar tertawa kecil, aku tak mengikutinya, aku tahu dia berusaha untuk tidak menangis hari ini, hanya saja dia tak tahu bagaimana cara menyembunyikannya. Dan dia kembali diam sejenak.
 “Aku gak mau terus-terusan membohongi diriku sendir,” ucapnya kemudian.
Aku menatapnya heran, hingga kubuat kerutan di keningku. Apa maksudnya? Bukankah aku yang selama ini membohongi diriku sendiri?
“Apa maksudmu?” tanyaku penasaran. Ya, sangat penasaran. Aku ingin tahu apa kata hati dia yang sebenarnya masih tersembunyi dan tak pernah kuketahui.
“Kamu gak memahamiku, Kania.”
“Bukannya selama ini kamu yang gak memahamiku?” ada setitik energi yang memaksaku melontarkan kalimat itu yang bahkan nyarisnya saja satu pengakuan besar akan mengacaukan petang ini.
Kali ini Akbar yang menatapku, kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Tuhan…baru kali ini aku melihat rona mukanya yang begitu membuatku mengelus dada. Aku tahu karena ini detik terakhir kami bisa bersebelahan seperti ini, hanya itu. aku makin merasa petang ini seperti seperti guguran kasih maya.
“A..aku..”
Perkataan Akbar terpotong oleh suara dering HPnya, aku menghela napas pelan, berusaha mengaturnya hingga aku tak mati di sini.
“Iya ma? Iya ..iya..bentar lagi Akbar ke sana. Iya.”
Akbar menutup teleponnya lantas memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Dia kembali mengarahkan pandangannya padaku, sesaat kemudian dia mengambil kembali HPnya lalu membongkarnya lantas membuka kartu yang terselip di dalamnya.
“Aku bakal ganti nomor dan menonaktifkan akun facebook aku,”
Dia mematahkan kartu lalu memasukkan kembali HPnya. Aku sangat kaget.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu mutusin persahabatan kita,”
“Justru aku menyelamatkan persahabatan kita,”
“Apa maksud kamu?”
“Waktu yang akan menjawab.”
“Setelah kamu pergi?”
“Mungkin,”
“Kamu akan kembali, kan?”
“Aku gak tahu,”
“Seenggaknya dalam waktu dekat ini kamu bakal kembali buat ngurus ijazah,”
“Papa bakal nyuruh orang buat ngurus ijazah itu sampe selesai,”
“Itu artinya kamu gak akan kembali?”
Tak ada jawaban dari Akbar, dia malah menundukkan kepala, kulihat satu tetes air matanya membasahi lantai bandara. Aku semakin sesak bahkan aku merasa telah mati. Tetes bening hangat membanjiri pipiku, aku sudah tak kuasa. Andai saja Tuhan memberikanku kekuatan untuk mengakui secara leluasa satu kenyataan yang telah tersembunyi dalam batin, maka saat ini aku akan mengatakannya, aku tak mau peduli lagi jika kuingat aku adalah seorang wanita namun aku sendiri tak tahu kenapa hingga kini aku masih sama, diam dan hanya diam hingga mungkin rasaku perlahan hilang atau malah membusuk meracuni hati yang makin ajur.
Akbar mengangkat kepalanya, tampak air matanya makin membanjir. Tiba-tiba dia memelukku erat.
“Kalau kami cinta sama Redy, katakan. Jangan biarkan cinta kamu membusuk sampai kamu kehilangan kesempatan. Kamu jangan menjadi manusia pengecut.”
Dia tak mengerti bahwa sesungguhnya cintaku hanya tertuju untukknya, dia tak paham itu. Dan aku tak mau lagi menjadikan Redy sebagai pelampiasan. Sudah cukup aku menyakiti diriku sendiri. Akbar melepas pelukannya, sebenarnya aku tak mau melepasnya, aku tak mau kehilangannya. Aku akan mati. Dia menghapus tangisku, rasanya kendati dia menghapusnya, tangisnku tak kan pernah kering.
“Kamu ingatkan janji kita?”
Aku mengangguk pelan.
“Kita tetap sahabat. Selamanya akan tetap menjadi sahabat.”
Kami mengucapkan ikrar kami lirih, isak kami lebih terasa dibanding lontaran kalimat yang selama ini menghantuiku.  Dan ini adala petang terakhir yang akan melukis kenangan manis yang tak akan fana.
“Orang tuaku sudah menunggu,” Akbar bangun dari duduknya sembari menggendong tas hitam miliknya.
“Aku akan merindukanmu,” akuku, aku berdiri berhadapan dengannya.
“Bahkan aku lebih dari itu,”
Akbar perlahan membalikkan badan membelakangiku namun dia kembali memutarnya mengarah padaku.
“Kalo suatu hari nanti kamu ingin menemuiku, kamu minta pada Tuhan, aku yakin Dia akan mengerti. Selamat tinggal.”
“Aku tunggu kamu di sini, Akbar.”
Sangat berat aku melepas Akbar, dia terseyum kemudian membalikkan badan lalu mulai menjauh dari jangkauanku bahkan mungkin ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Ragaku tak kuasa mencegahnya. Biarkan saja. Aku tahu ini bukan kemauan siapapun, ini adalah suratan, tak seorangpun sanggup menghapus sebaris saja, hanya Tuhan yang kuasa.
“Aku cinta sama kamu.”
Tuhan hanya memberiku keberanian sebatas itu, tanpa suara lantang dan ketika dia telah hilang dari pandangan. Aku menghempas tubuhku hingga lututku mencium lantai. Aku tersedu sendirian, hanya sendiri diantara keramaian orang-orang asing. Tak ada yang memperdulikannku saat ini, tak ada yang sudi menghampiriku dan menanyakan padaku tentang apa yang terjadi. Aku jadikan ini adalah sebuah kesalahan terbesarku. Ternyata dengan diam tak selamanya akan menenangkan keadaan, batinlah yang merasakan kegalauan luar biasa. Aku merasakannya sekarang. Kesempatanku telah hilang seutuhnya. Aku tak bisa bersamanya bahkan sekedar menyapanya pun aku tak akan pernah bisa lagi.
Dan petang telah sejenak meninggalkan hamparan lunar jingga yang kini telah menjadi jutaan garis kehitaman tanpa setitik sinar, kukira malam ini akan ada purnama yang bersedia bersamaku, nyatanya separuh rembulan pun tak nampak.
Aku baru menyadari bahwa malam ini aku telah duduk di tempat biasa yang seringkali kami tempati, dalam gelap aku masih bisa melihat betapa berantakannya di depan gerbang sekolah, sisa coretan-coretan berwarna melapisi jalanan, padahal siekolah sengaja mengumumkan kelulusan di website agar tak terjadi hal semacam ini, nampaknya mereka di luar sana sangat menikmati hari ini, tapi tidak untukku.  Baru beberapa jam saja tanpa Akbar aku sudah merasa mati. Tangisku belum juga usai. Aku memadangi jalanan yang silau oleh bola-bola lampu kendaraan, kuharap diantara rayapan kendaraan itu ada Akbar yang kembali menemuiku dan mengatakan bahwa ini hanya sandiwara, dia tak akan meninggalkanku. Rasanya pikiranku terlalu gila. Aku tak mau lagi menyaksikan sandirwara karena aku telah melakoninya, dan rasanya sakit sekali.
“Bagaimana neng, sekolahnya lulus kan?”
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang dari arah belakang mengenakan kaos biru dan celana katun hitam panjang, tampak dia mengumpulkan bekas botol p-lox sembari memegang senter, ternyata Mang Maman.
Aku menoleh lantas tersenyum dan berusaha menutupi tangisku, “Alhamdulillah, mang.”
“Syukur kalo begitu. Kalo tidak salah ini temannya jang Akbar kan?”
Mang Maman menghampiriku dan berdiri di belakangku, aku hanya sedikit memutar badanku.
“Iya, Mang.” balasku singkat, aku malas menanyakan kenapa dia bisa mengetahuinya, prediksiku dia mengetahuinya mungkin karena kami sering kemari.
“Sekarang dia dimana?”
“Pulang ke Palembang.”
“Sayang sekali.”
Aku tak menggubrisnya lagi, aku kembali mengarah pada jalanan yang makin ramai, tampak ada diantara pengguna jalan yang masih mengenakan seragam putih abu yang penuh dengan coretan lewat di hadapanku, aku tak tahu apa yang telah dia kerjakan selain menghabiskan hari ini dengan sejuta kebahagiaan yang tak berhasil kudapati.
Terlihat Mang Maman meraba-raba tempat duduk kami dengan penerangan yang keluar dari lampu senternya, aku tak mengerti apa yang sedang dia lakukan. Aku tak berkutik, jika itu berhubungan denganku, kurasa dia akan menyampaikannya. Dan kudiamkan lelaki paruh baya itu.
“Neng bisa geser sedikit?” pinta Mang Maman sesaat kemudian.
Aku menurutinya, dengan senter yang dibawanya, dia mencari-cari sesuatu, dan sungguh aku benar-benar tak paham, “Nah ini dia,”
Aku langsung mengambil HPku dan menyalakannya, setelah itu Mang Maman malah beranjak begitu saja tanpa permisi, mungkin dia tak mau menjadi saksi kisahku bersama satu harapan kecil yang tak kunjung tersampaikan. Aku membiarkannya. Perlahan kucoba membacanya coretan yang ditulis oleh pupen biru itu.
Kita tetap sahabat. Selamanya akan tetap menjadi sahabat. Mungkin bisa bertambah namun tak akan pernah berkurang. Aku mencintaimu, teman. A K
Air mataku kembali deras, rasanya ini lebih sakit dari semua rasa sakit yang kurasa selama ini. Apa yang telah Tuhan takdirkan? Satu pengakuan kecil namun amat terasa berefek besar, sebuah pengakuan sama yang tersembunyi tanpa tanda apapun. Jika saja aku tahu, keadaannya tak akan serumit ini. Aku sangat sakit. Ingin aku berlari menyusul Akbar dan mengatakan semua yang tak sempat kukatakan. Aku tak mengerti apa yang tengah Tuhan ujikan dan apa yang akan Dia janjikan? Ini terlalu sakit untukku. Satu kenyataan yang merapuhkan harapan. Hilang, dan tak sempat kudapati satu kesempatan yang seharusnya sejak dulu kumilki. Hariku sangat buruk, lebih buruk dari hari kemarin.
“Kamu pengecut, Akbar!!! Kamu pengecut!!!!!” teriakku seperti sendu cerau, mungkin mereka yang melihatku menganggapku seperti manusia yang telah kehilangan akal sehatnya. Ini semua karena Akbar.
Ini tak adil untukku, apa yang membuat Tuhan tak sudi memberiku kesempatan? Aku hanya memintanya sejenak saja. Aku menutup mataku, memeras habis air mata yang tersisa. Kuharap setelah aku membuka mataku, kudapati Akbar sudah berdiri di hadapanku memancar satu senyuman sembari mengulurkan tangannya. Sejenak aku membiarkan ragaku mencari setitik sinar. Aku sendiri malam ini. Kugoreskan sejuta kenangan yang kutulis perlahan hingga tak akan lenyap sedetik pun.
“Kania.”
Sesaat kudengar seseorang menyebut namaku, aku yakin itu Akbar. Segera kubuka mataku lalu menatap dia yang ternyata sudah berdiri di hadapanku dengan seulas senyuman ikhlas, kulihat Redy. Mungkin ini adalah jawaban terakhir, sepenggal kisah lain yang akan menjadi pelukis batin yang tak pernah tersentuh.
-SEKIAN-
 
Copyright (c) 2010 Segores Coretan and Powered by Blogger.